Jual Rumah Malah Ditipu

Memiliki tempat tinggal atau rumah pribadi kini bisa dibilang bukan lagi mimpi. Ratusan bahkan ribuan perusahaan pengembang bersaing meraih calon pembeli dengan menawarkan berbagai tipe rumah dengan harga kompetitif. Satu di antara trik mereka memikat konsumen adalah dengan menawarkan fleksibilitas uang muka dan tak jarang menyuguhkan hadiah.

Berbeda dengan rumah bekas, proses penjualan perumahan yang dikelola pengembang biasanya menggunakan tangan kedua. Bisa lewat perusahaan, makelar, menempel pengumuman di depan rumah, hingga memanfaatkan iklan rumah di media massa. Sayangnya, cara ini sering dimanfaatkan orang-orang yang berniat jahat.

Modus para pelaku biasanya menjalin komunikasi dengan pemilik rumah saat akhir pekan atau hari libur. Sebab, di saat itulah aktivitas perbankan tak beroperasi. Sebagai contoh, Agus Purbono, warga Bekasi Utara, Jawa Barat, beberapa waktu lalu, antusias menyambut dering telepon dari seseorang yang mengaku berminat dengan rumah yang hendak Agus jual.

Setelah tawar-menawar, kesepakatan tercapai dan calon pembeli yang mengaku tinggal di Bandung, Jawa Barat, langsung mengirimkan uang muka via transfer rekening bank. Saat Agus mengecek melalui anjungan tunai mandiri (ATM), jumlah uang muka yang dijanjikan kurang. Agus pun mengonfirmasi kekurangan itu pada calon pembeli.

Sang calon pembeli lalu meminta Agus mentransfer kembali uang yang sudah masuk. Bahkan, komunikasi berlangsung tiga arah melibatkan pihak bank. Penjelasan pihak bank menyakinkan Agus untuk kembali menuju mesin ATM untuk transfer balik ke nomor rekening calon pembeli. Namun, Agus menghentikan transaksi karena diminta memasukkan sejumlah kode yang mencurigakan.

Calon pembeli kembali menghubungi dan meyakinkan agus. Meski ragu, Agus pun untuk kesekian kalinya kembali ke ATM. Ia lalu mentransfer uang dengan memasukkan kode yang dinstruksikan calon pembeli. Lalu keluar struk atas nama Susi Pujiani, yang disebut calon pembeli sebagai manajer bank. Setelah itu, Agus diminta menunggu sampai uang ditransfer kembali.

Tunggu punya tunggu, uang tersebut tak kunjung masuk ke rekening Agus. Keraguan pun kembali mencuat. Dia lalu mengonfirmasi kepada pihak bank melalui nomor telepon yang sempat tercatat di mesin ATM. Tapi, penjelasan pihak bank sungguh mengejutkan. Agus dianjurkan melapor ke polisi karena diduga tertipu. Terlebih, saat korban menyempatkan diri melihat saldo rekening di hari yang seharusnya ia menerima gaji, saldo miliknya malah kosong.

Modus tindak kejahatan kini makin beragam. Ada baiknya penjual rumah mewaspadai pihak kedua atau calon pembeli yang melakukan transaksi langsung maupun tak langsung. Sebab, tindak kejahatan akan menghampiri saat kesempatan dan kelengahan korban berjalan seiring.(IKA/ANS)

Sumber : buser.liputan6.com- 19/06/2009 01:19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: