Pencuri Motor Terpaksa Jual Rumah untuk Biaya Opname Akibat Dihajar Masa

Suasana ruang 19 RSSA Malang kemarin, terlihat seperti biasanya. Tempat rawat inap khusus laki-laki ini nyaris tak ada beda. Banyak pasien yang menjalani perawatan. Pasien yang dirawat pun berbeda-beda penyakitnya. Ada yang dirawat karena ganggung penyakit dalam, ada juga yang korban kecelakaan.

Pemandangan berbeda terlihat di tempat tidur no 36 ruangan tersebut. Di atas tempat tidur itu, terbaring lemah seorang laki-laki dengan kepala gundul dan tidak mengenakan pakaian.

Tubuhnya hanya ditutupi dengan selimut khas rumah sakit, berbahan wol, berwarna putih garis-garis hijau. Di sebelah kanannya tergantung infus yang dialirkan melalui tangan kanan. Sementara yang berbeda adalah tangan kirinya. Tangan kiri laki-laki ini terpasang borgol, yang diikatkan di ranjang tempatnya tidur.

Dialah Hadi Ismail, pria 38 tahun, pelaku pencurian motor Suzuki Satria DH 2572 HA, milik Elwin, 27 tahun, mahasiswa S2 Universitas Brawijaya Malang, yang tumbang setelah dipukuli warga Kelurahan Tasikmadu Kamis (4/9) lalu.

Hadi mengalami cidera kepala akut dan hingga sore kemarin dia sudah menjalani tiga kali operasi. Rencanannya, Senin (22/9) nanti, Hadi akan kembali menjalani operasi, yaitu memasang alat di rahangnya.

Dalam ketidakberdayaan Hadi, Sumaiyah, 44 tahun, istri kedua pria tersebut tampak sangat setia. Wanita asal Tumpang ini terlihat sangat perhatian dengan laki-laki yang belum memberikan dia keturunan, meski pernikahannya sudah berjalan dua tahun.

Diceritakan Sumaiyah, tak ada yang perlu disesali dengan perjalanan hidupnya. Meski Hadi adalah pelaku kriminal, dimatanya, Hadi adalah suami yang baik, dan bertanggung jawab.

Itu sebabnya, Sumaiyah pun cukup rela menjual tanah dan bangunan rumahnya, untuk menutup biaya rumah sakit yang saat ini nilainya hampir mencapai Rp 17 juta. Bahkan jumlah itu bisa terus bertambah, karena Hadi masih butuh perawatan lebih intensif lagi.

‘’Saya bingung mencari uang untuk biaya perawatan Mas Hadi. Karena saya tidak mau merepotkan orang, akhirnya saya jual rumah kami di Pasuruan dan uangnya untuk biaya RS ini dan sisanya untuk bolak-balik RS – rumah, serta biaya sehari-hari disini,’’ kata Sumaiyah.

Wanita yang sempat menjadi pengusaha tempat ketangkasan bilyard di desa Tulus Besar Tumpang ini, tidak ingin menambahi beban suaminya. Itu sebabnya, dia belum menceritakan perihal penjualan rumah itu.

‘’Kalaupun nanti suami saya ditahan di Polsekta Lowokwaru, mungkin saya akan pulang ke Tumpang dulu, baru kalau nanti keluar, saya akan katakan. Kalau sekarang saya tidak berani, takut kesehatannya drop,’’ ucap Sumaiyah menerawang.

Sumaiyah memang terlihat sabar, merawat suaminya. Padahal, tidak jarang dia menjadi korban kekerasan suaminya, yang sangat posesif, dan pecemburu tersebut. Bukan hanya di rumah, Hadi juga beberapa kali memukuli Sumaiyah di RS saat dia sadar.

‘’Kemarin dia memukuli saya, saat melihat ada polisi datang, dan hendak memeriksa. Dia itu belum stabil dan masih sangat labil. Mohon untuk pak polisi jika ingin memeriksa, menunggu kesehatan suami saya betul-betul pulih dulu,’’ kata Sumaiyah, yang mengetahui jika suaminya adalah pelaku kriminal setelah dia menikah.

“Untuk apa disesali mbak, kalau memang ini sudah garis tangan saya, lebih baik dijalankan saja,’’ tandas Sumaiyah, sembari mengatakan jika dia tidak tahu menahu dimana istri pertama Hadi, karena selama dia menjaga Hadi, istri pertamannya tidak pernah datang menjenguk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: