Warga Kelapa Gading Ramai Jual Rumah

Beberapa pemilik rumah di Kelapa Gading, Jakarta Utara, berniat pindah setelah perumahan yang didominasi rumah mewah itu terendam banjir. “Mencari tempat yang lebih baik, tapi masih di Kelapa Gading juga,” kata Julius Hade, seorang pemasar di Ray White Kepala Gading, kepada Tempo, Kamis lalu.

Menurut Julius, banjir membuat kondisi rumah makin buruk. Harga rumah pun dikhawatirkan akan jatuh. Padahal, Ray White menjadi perantara jual-beli ratusan rumah di sana. “Setelah pemulihan, kami baru akan berhubungan dengan pemilik rumah untuk membicarakan masalah ini (penurunan harga),” ujarnya.

Sebuah rumah di kawasan Kompleks Hibrida di Kelapa Gading Permai misalnya. Rumah dua lantai berukuran 6 kali 15 meter, dengan luas bangunan 60 meter persegi itu dibuka dengan harga Rp 450 juta. Julius pesimis bisa menjual dengan harga bagus. “Melihat kondisinya, harga akan turun,” katanya. Sebab rumah itu sempat tergenang air sepinggang orang dewasa. Akibatnya tembok, lantai dan tanah sekitar bangunan terendam

Pengembang perumahan di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, PT Summarecon, belum menghitung kerugian akibat banjir yang merendam kawasan itu. “Belum ada penghitungan, masih proses recovery,” kata Public Relations Manager Summarecon, Cut Meutia. Namun menurut dia, luas kawasan perumahan yang dikembangkan perusahaannya dan terendam banjir mencapai 500-an hektar.

Pihak kelurahan juga belum menghitung kerugian akibat banjir. “Nanti kami akan minta dari masing-masing rukun warga,” kata Wakil Lurah Kelapa Gading Barat, Dadap Ari Wibowo.

Di Perumahan Taman Duta, Kelurahan Cisalak, Kecamatan Sukmajaya, Depok, pun banyak rumah yang hendak dijual karena langganan dilanda banjir. Pengamatan Tempo, Rabu siang lalu perumahan itu terlihat sepi. Beberapa rumah yang ada tampak lengang. Di depan sebuah rumah kosong terpasang papan dengan lebar 1 meter x 1 meter bertuliskan: Rumah Dijual.

Sudjono, Ketua RW 12 Kemuning, mengemukakan dari sekitar 600 kepala keluarga yang tinggal di perumahan ini sekitar 50 persen sudah pindah. “Banyak yang pindah. Dijual tapi gak ada yang mau. Jadi kosong gitu aja,” kata Sudjono kepada Tempo di rumahnya. Sebab perumahan itu sudah sejak 10 tahun menjadi langganan banjir dari luapan Kalilaya, yang berada tepat di belakangnya.

Menurut dia, warga yang meninggalkan rumahnya sudah merasa lelah dengan bencana banjir yang melanda perumahan ini setiap tahunnya. Apalagi ketinggian air di dalam rumah, terutama untuk RW Kenanga dan RW Teratai yang daerahnya rendah bisa mencapai satu meter.

Banyak warga jual rumah dengan harga yang sangat murah. Untuk rumah huk di depan jalan besar di Jalan Taman Duta Barat bertipe 49 misalnya dijual Rp 150 juta, atau rumah tipe 70 awalnya dijual Rp 250 juta lalu turun menjadi Rp 100 juta.

Komandan Kodim 0508, Letkol CZT Raflan yang pernah bermukim di Taman Duta mengaku kapok tinggal di perumahan tersebut. Sebab setiap hujan lebat turun, air akan meluap dan menggenangi rumah. “Capek membuang air terus, katanya.

Sementara Sudjono dan warga lainnya yang masih tetap bertahan hanya berharap wilayah rumah mereka nantinya terkena pembebasan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago). “Mau dijual sayang. Mudah-mudahan tol Cijago lewat sini.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: